Karena itu, Kementerian Agama mendorong dukungan berkelanjutan bagi pendidikan ulama perempuan. Nasaruddin mengajak perguruan tinggi, pesantren, jaringan media, dan komunitas lintas agama memperluas kolaborasi agar pemikiran ulama perempuan semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Baca juga: Cara Mengganti Buku Nikah yang Rusak atau Hilang, Ini Syaratnya
2. International Short Course Hadirkan Pembelajaran Lintas Negara
International Short Course 2026 menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam mengembangkan kepemimpinan ulama perempuan. Ketua panitia pelaksana sekaligus Ketua LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia, mengatakan program ini berlangsung pada 2–9 November 2026.
Selama delapan hari, peserta mengikuti perkuliahan, diskusi interaktif, dan pembelajaran lapangan. Panitia juga menjadwalkan kunjungan dan pengalaman tinggal di Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, agar peserta internasional dapat mempelajari tradisi keilmuan serta kepemimpinan ulama perempuan secara langsung.
“Kami ingin mengajak peserta memahami bagaimana ajaran Islam ditafsirkan dan diwujudkan dalam aksi nyata, mulai dari penegakan keadilan gender, bina damai (peacebuilding), hingga pelestarian lingkungan,” papar Amelia.
Baca juga: Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan 10 Agenda hingga Expo Kemandirian Pesantren
Pendekatan tersebut membuat pembelajaran tidak berhenti pada diskusi teori. Peserta juga dapat melihat bagaimana nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan masyarakat, termasuk melalui pendidikan pesantren, gerakan sosial, dan kepemimpinan perempuan.
3. Pesantren dan Kampus Perkuat Kolaborasi Global
Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Munhanif, menyambut positif kolaborasi lintas lembaga dan negara dalam International Short Course 2026. Ia mengapresiasi konsistensi pemikiran Nasaruddin dalam mendorong pembaruan pemahaman keagamaan, khususnya terkait hak-hak perempuan.





