Penulis: Dr. Mohan, S.E., M.E.I
Kepala Divisi Pengumpulan Kementerian dan Lembaga Nonkementerian serta Plt Kepala Divisi Pengumpulan Usaha Jasa dan Perdagangan BAZNAS RI
Syariahnow.com-Jakarta-Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat gambaran tentang siapa manusia, siapa musuhnya, untuk apa manusia hidup, mengapa manusia diuji, dari mana petunjuk kehidupan berasal, dan ke mana perjalanan manusia berakhir. Kisah Adam sesungguhnya adalah peta jalan kehidupan seorang Muslim.
Al-Qur’an terlebih dahulu memperlihatkan persoalan yang menjadi akar kejatuhan Iblis: kesombongan. Ketika Allah memerintahkan malaikat bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan, mereka tunduk, kecuali Iblis. Ia menolak karena merasa lebih baik.
“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Iblis berasal dari golongan jin dan penolakannya berakar pada kesombongan. Dari sini manusia mendapat pelajaran pertama: kemuliaan tidak ditentukan oleh asal-usul, kekayaan, jabatan, status, maupun keunggulan duniawi, melainkan oleh ketaatan kepada Allah.
Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga diri dari penyakit merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Namun Iblis tidak berhenti pada kesombongan. Ia mengubah strategi. Godaan tidak selalu datang dalam bentuk keburukan yang terlihat jelas. Ia bisa hadir melalui bisikan yang tampak indah dan meyakinkan.
Adam dan istrinya telah menikmati kehidupan di surga. Allah melarang mereka mendekati satu pohon. Setan kemudian membisikkan:
“Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS. Thaha: 120).
Tawaran itu menjanjikan keabadian dan kekuasaan. Pola yang sama dapat ditemukan dalam kehidupan manusia hari ini. Godaan bisa hadir dalam bentuk keinginan terhadap harta, jabatan, popularitas, kenikmatan, kekuasaan, atau kebebasan.
Sesuatu yang salah tidak selalu datang dengan label “keburukan”. Ia dapat dibungkus sebagai kesempatan, kesuksesan, atau kebahagiaan.
Adam dan istrinya kemudian tergelincir. Tetapi di sinilah perbedaan mendasar antara Adam dan Iblis terlihat. Adam melakukan kesalahan lalu kembali kepada Allah. Allah menerima taubatnya (QS. Al-Baqarah: 37).
Iblis salah lalu mempertahankan kesalahannya dengan kesombongan; Adam salah lalu kembali dengan taubat.
Pelajaran ini penting. Manusia bukan makhluk yang tidak pernah salah. Manusia adalah makhluk yang harus selalu kembali kepada Allah ketika tergelincir.





