Dari Surga ke Bumi dan Datangnya Petunjuk
Kehidupan Adam dan istrinya di bumi tidak tepat dipahami sekadar sebagai “pembuangan” atau konsekuensi dosa warisan. Dalam Islam, manusia memang telah ditetapkan sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), sementara Allah menerima taubat Adam.
Bumi menjadi tempat manusia menjalani amanah sekaligus ujian.
Allah kemudian memberikan prinsip utama: petunjuk-Nya akan datang; siapa yang mengikuti petunjuk itu tidak akan tersesat dan tidak akan celaka (QS. Thaha: 123).
Di sinilah manusia membutuhkan wahyu.
Akal penting, tetapi memiliki keterbatasan. Pengalaman berguna, tetapi tidak selalu menghasilkan kebenaran. Ilmu berkembang, sedangkan keinginan manusia dapat menyeretnya kepada kesesatan.
Karena itu, Allah tidak membiarkan keturunan Adam hidup tanpa pedoman. Para nabi dan rasul diutus untuk membawa wahyu, mengajarkan tauhid, memperbaiki akhlak, meluruskan ibadah, dan membimbing kehidupan manusia.
Dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan para nabi lainnya, manusia menerima rangkaian petunjuk Allah. Hingga akhirnya Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul terakhir, yang menyempurnakan risalah melalui Al-Qur’an dan Sunnah.
Islam kemudian hadir sebagai jalan hidup yang utuh. Aqidah membimbing manusia mengenal Allah dan tujuan hidup. Ibadah mengatur hubungan penghambaan kepada Allah. Muamalah mengatur hubungan manusia dalam keluarga, ekonomi, pendidikan, sosial, dan kehidupan bermasyarakat berdasarkan prinsip syariat.
Syariat karena itu bukan sekadar kumpulan aturan halal dan haram. Ia merupakan pedoman agar manusia tidak kehilangan arah.





