Santri Vision
Santri Vision digelar pada 2-20 Oktober 2026. Program ini menjadi ruang bagi santri dan pesantren untuk menampilkan karya serta inovasi di berbagai bidang.
Menag menilai pendidikan pesantren memiliki karakter tersendiri yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Baca juga: Ikhtiar Kemenag Rawat Kerukunan Umat Beragama di 2025
“Seorang peneliti dari Inggris mengagetkan saya juga bahwa setelah melakukan penelitian tentang tradisi Pesantren, dia berkesimpulan bahwa justru konsep pendidikan Pesantren itu adalah model pendidikan yang paling canggih, sophisticated school,” ungkap Menag.
Santri Vision mencakup kategori Naskah, Kebijakan, dan Komunikasi Ilmiah; Audio-Visual, Seni Visual, dan Digital Media; serta Inovasi Digital dan Teknologi Pesantren.
Halaqah Penguatan Ditjen Pesantren
Kemenag menjadwalkan Halaqah Penguatan Ditjen Pesantren pada 8-9 Oktober 2026. Forum ini diarahkan untuk menyusun peta jalan pengembangan pesantren.
Baca juga: ADPISI Rumuskan Arah Baru Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum
“Nanti teman-teman pesantren akan mencoba menciptakan semacam road map, peta jalan Pondok Pesantren ke depan,” kata Menag.
Menurut Basnang Said, pemerintah daerah juga akan dilibatkan dalam agenda tersebut.
“Untuk provinsi-provinsi lain yang belum memiliki perda, tentu kita berharap mereka dapat segera menyusunnya sebagai langkah untuk mendukung pelaksanaan program-program pesantren,” kata Basnang.
Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Minta Kemenag Responsif Tangani Pengaduan Masyarakat
Mu’tamad Santri
Mu’tamad Santri akan digelar pada 14-15 Oktober 2026. Forum akademik ini ditujukan untuk memperkuat mutu pendidikan pesantren, memperluas jejaring kerja sama internasional, serta mendorong pesantren agar memiliki daya saing global.
Kegiatan akan berlangsung secara hybrid dengan sekitar 250 peserta secara luring dan 500 peserta secara daring.




