Keluasan ruang belajar itu sejalan dengan keluasan ilmu Allah. Ilmu tidak terbatas pada apa yang lazim disebut ilmu agama dalam pengertian syariat, tetapi juga mencakup alam semesta, kehidupan manusia, sejarah, bahasa, masyarakat, dan berbagai gejala yang dapat ditelaah melalui penelitian serta pengalaman. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit dan bumi serta mengambil pelajaran dari perjalanan umat manusia. Alam dan kehidupan bukan sekadar latar tempat manusia menjalani hidup, melainkan juga sumber pengetahuan yang perlu dibaca dan dipahami. Karena itu, seorang santri semestinya memiliki rasa ingin tahu yang luas dan kesediaan untuk terus menggali ilmu dari berbagai bidang.
Mempelajari ilmu alam dapat menumbuhkan kekaguman terhadap keteraturan ciptaan sekaligus kesadaran akan keterbatasan manusia. Mempelajari sejarah mengajarkan bahwa kejayaan tidak berlangsung selamanya dan setiap tindakan memiliki akibat. Ilmu sosial membantu kita memahami mengapa kemiskinan dan ketimpangan terjadi, sedangkan ilmu kesehatan mengajarkan pentingnya menjaga kehidupan manusia. Bahkan, perjumpaan dengan orang yang berbeda pandangan dapat menjadi pelajaran tentang kerendahan hati. Semua itu memperluas wawasan dan mempertajam kepekaan kita dalam memahami kehidupan.
Namun, banyaknya pengetahuan belum tentu membuat seseorang lebih bijaksana. Pengetahuan perlu diolah menjadi pemahaman, lalu digunakan untuk membaca persoalan dan mencari jalan keluar. Seseorang mungkin mengetahui banyak hal tentang kejujuran, tetapi kehidupanlah yang menguji apakah ia mampu bersikap jujur ketika menghadapi kepentingan pribadi. Seseorang dapat memahami teori tentang kemiskinan, tetapi kepeduliannya diuji ketika berhadapan dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Kehidupan bukan hanya tempat menerapkan ilmu, melainkan juga ruang yang memperkaya dan mengoreksi pemahaman kita.




