Harmonisasi Fiskal dan Moneter
Ekonom Universitas Indonesia Telisa Falianty mengatakan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter harus berjalan secara harmonis agar mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global.
Menurut Telisa, keseimbangan antara kebijakan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia perlu dijaga agar tidak terjadi dominasi salah satu kebijakan yang berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi.
“Antara Lapangan Banteng dan Kebon Sirih harus harmonis antara moneter dengan fiskalnya. Jangan sampai fiskal terlalu dominan dibandingkan moneter atau sebaliknya. Jika fiskal terlalu dominan, itu akan memberikan potensi krisis dan mengurangi prudentiality,” ujarnya.
Dia juga menyoroti pentingnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam implementasi kebijakan fiskal, terutama terkait penyesuaian Dana Transfer ke Daerah (TKD), agar pelayanan publik tetap berjalan optimal.
“ Ya agar pelayanan publik dasar tidak terganggu,” kata Telisa.
Di sisi lain, Telisa menilai pertumbuhan kredit nasional masih belum merata. Penyaluran kredit masih didominasi sektor korporasi besar seperti industri sawit, nikel, CPO, dan pembiayaan investasi, sementara pertumbuhan kredit UMKM dan modal kerja relatif terbatas.
Kondisi tersebut, menurutnya, sejalan dengan melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah yang terlihat dari meningkatnya penggunaan tabungan maupun pinjaman untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.
“Mulai dari fenomena maraknya penarikan tabungan (makan tabungan) hingga penggunaan fasilitas pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (makan pinjaman) atau manja,” tegas Telisa.





