Dorong Pertanian Ramah Lingkungan
Selain melakukan pembibitan, peserta juga berdiskusi mengenai pemanfaatan pupuk organik sebagai bagian dari praktik pertanian berkelanjutan.
Penggunaan pupuk organik dinilai penting untuk menjaga kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan petani.
Baca juga: Mudik Kemenag 2026 Berangkatkan 700 Pemudik ke Jawa dan Sumatra
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pendampingan yang dijalankan Tim Peduli Penyintas Erupsi Lewotobi untuk mendukung pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.
Pendekatan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan jangka pendek, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat agar mampu mengembangkan usaha pertanian secara mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Program ini sejalan dengan semangat Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam upaya membangun kemandirian masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran ekoteologi melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
Baca juga: Jelang Lebaran, 97.122 Guru Binaan Kemenag Lolos Sertifikasi
Melalui kegiatan pertanian produktif, masyarakat didorong untuk bangkit dari dampak bencana sekaligus menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan lingkungan.
Menanam Harapan di Tengah Pemulihan
Salah seorang anggota kelompok tani, Bapa Labi, menilai kegiatan pembibitan tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menyiapkan tanaman untuk masa panen.
“Pembibitan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak berhenti pada pengalaman bencana. Mereka terus bergerak, belajar, dan bekerja bersama. Ketika benih ditanam, sesungguhnya yang sedang dipelihara bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan akan masa depan yang lebih baik,” katanya.
Baca juga: Kemenag: Musafir Boleh Tidak Puasa saat Mudik, tetapi Tetap Jaga Adab
Di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung, kolaborasi antara kelompok tani dan tim pendamping menjadi modal sosial yang penting bagi masyarakat terdampak erupsi.
Melalui kerja sama, transfer pengetahuan, dan semangat untuk bangkit bersama, para penyintas terus membangun optimisme baru. Dari lahan yang pernah terdampak erupsi, tumbuh harapan menuju kemandirian ekonomi dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat sekitar.





