Tak lupa, Menag mengingatkan pentingnya komunikasi yang beradab dan jujur dalam kehidupan sehari-hari. Ia bahkan mengutip perintah Allah SWT kepada Nabi Musa untuk berkata lembut kepada Fir’aun.
“Bahkan Allah SWT memerintahkan Nabi Musa agar berkata dengan lemah lembut kepada Fir’aun. Artinya, terhadap siapa pun, bahkan kepada yang keras sekalipun, Islam mengajarkan kita untuk tetap santun,” tegasnya.
Baca Juga: Menag Dorong Tatanan Baru Pengelolaan Zakat dan Wakaf
Amanat Menag ditutup dengan penghargaan besar kepada para kiai dan santri yang menjaga pesantren sebagai lembaga pendidikan mandiri.
“100 persen dari 45 ribu pesantren di Indonesia adalah swasta. Artinya, pesantren hidup di atas kaki sendiri tanpa ketergantungan kepada siapa pun. Terima kasih kepada para kiai dan para santri atas dedikasi dan perjuangannya,” ujar Menag.
Apel ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pegawai Kemenag, serta santri dari berbagai daerah, baik hadir langsung maupun daring. Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i dan Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin mendampingi Menag. Yang menarik, acara ini menunjukkan kebersamaan lintas agama.
Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung menjadi pembawa acara, Dirjen Bimas Katolik Suparman pemimpin upacara, naskah UUD 1945 dibacakan Dirjen Bimas Buddha Supriyadi, dan teks Pancasila oleh Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija.
Baca Juga: Kemenag – OJK Rilis Panduan Produk Inovasi Wakaf Uang dan Deposito CWLD
Dirjen Pendidikan Islam Amien Suyitno membacakan Resolusi Jihad, Kepala Badan Moderasi Beragama Ali Ramdhani memimpin Ikrar Santri Indonesia, dan doa penutup oleh Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad.




