“Kami tidak memulai dari kosmetik kinerja, tetapi dari hal yang paling mendasar: kesadaran kolektif bahwa krisis bukanlah aib, melainkan momentum spiritual dan manajerial untuk bangkit. Dari situ, kami menyederhanakan fokus bisnis, menghentikan ekspansi yang tidak sehat, dan mengalihkan energi organisasi ke segmen-segmen yang benar-benar kami pahami dan kuasai—khususnya ekosistem haji dan umrah, pembiayaan emas, dan ritel yang resilient,” tuturnya lagi.
Di saat yang sama, Bank Muamalat memperkuat budaya internal dengan menegaskan kembali bahwa pionir bank syariah di Indonesia ini bukan sekadar entitas bisnis, tetapi institusi perjuangan. Perubahan pun terasa nyata dalam cara bekerja, cara mengambil keputusan, hingga cara melayani nasabah.
“Perlahan tapi pasti, trust mulai kembali, kinerja membaik, dan yang terpenting: organisasi menemukan kembali jati dirinya,” ucap Imam.
Kepercayaan dan dukungan seluruh pemangku kepentingan
Menurut Imam, penghargaan Best CEO 2025 juga tidak lepas dari kepercayaan dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan yang mengiringi perjalanan Bank Muamalat.
“Kami bangga dan bersyukur karena selama tiga dekade, Bank Muamalat telah menjadi bagian dari perjalanan hijrah keuangan para nasabah, sebuah ikhtiar bersama menuju keberkahan, melalui layanan perbankan yang sesuai syariah, amanah dan terpercaya. Semoga Bank Muamalat senantiasa menjadi Jalan Hijrah Menuju Berkah bagi siapa pun yang ingin membangun masa depan keuangan yang lebih baik, lebih tenang, dan lebih bermakna,” pungkas Imam.




