Lebih lanjut, Menag memberikan catatan penting agar para pemikir ekonomi Islam tidak kehilangan jati diri. Ia mengingatkan agar tidak terjebak dalam pemikiran yang terlalu rasional-liberal tanpa akar teologis yang kuat.
“Saya mohon gagasan kita ini jangan terpisah dengan ayat, hadis, dan kitab-kitab kuning sebagai legitimasi. Kita harus memiliki wawasan keislaman yang mendalam agar tidak disebut liberal,” tegasnya.
Menutup arahan, Menag berpesan kepada hadirin untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di era digital. Ia mengingatkan pentingnya menjaga akurasi ucapan agar tidak terjadi distorsi informasi atau kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Di zaman sekarang ini, tolong kita semua lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Jangan sampai ada jarak atau kesalahpahaman antara apa yang kita maksudkan dengan apa yang diterima oleh masyarakat. Dunia digital ini cepat sekali, maka jagalah lisan kita agar tidak terjadi distorsi informasi yang justru merugikan umat,” tutupnya.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2019-2024 KH. Ma’ruf Amin, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI, dan CEO Danantara Rosan Roeslani, Kepala Baznas Noor Achmad, Chairul Tanjung, serta pejabat IAEI dan stakeholders ekonomi Islam.



