Di sisi lain, perguruan tinggi juga dituntut melakukan transformasi. Kurikulum perlu terus disesuaikan dengan perkembangan industri, memperluas program magang, memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha, serta mendorong mahasiswa memperoleh sertifikasi kompetensi yang relevan.
Lulusan masa kini tidak cukup hanya menguasai konsep akademik, tetapi juga harus mampu menerapkan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat maupun dunia industri.
Mahasiswa pun tidak boleh memandang gelar sarjana sebagai tujuan akhir. Selama menjalani pendidikan, mereka perlu membangun portofolio, mengikuti pelatihan, meningkatkan literasi digital, menguasai bahasa asing, memperluas jejaring profesional, dan membiasakan diri menjadi pembelajar sepanjang hayat. Kombinasi antara pendidikan formal dan kompetensi praktis akan menjadi modal utama menghadapi persaingan global.
Perdebatan mengenai penting atau tidaknya gelar sarjana seharusnya tidak diposisikan sebagai pilihan antara pendidikan dan keterampilan. Keduanya bukanlah hal yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.
Gelar sarjana tetap memiliki nilai strategis sebagai bukti proses pembelajaran yang sistematis, sedangkan keterampilan, pengalaman, inovasi, dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor yang menentukan keberhasilan seseorang di dunia kerja.
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi, integritas, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan semangat belajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, gelar sarjana masih relevan, bukan karena menjamin kesuksesan, melainkan karena menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global.




