Menag menjelaskan, setiap ajaran agama pada dasarnya mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lebih jujur, lebih peduli, dan lebih berempati terhadap sesama. Dalam konteks kebangsaan, hal ini menjadi kekuatan penting bagi Indonesia. Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki karakter yang terbentuk dari budaya maritim yang terbuka dan egaliter, sehingga terbiasa hidup dalam keberagaman.
“Indonesia memiliki modal sosial yang kuat. Kita terbiasa hidup dalam perbedaan, dan itu menjadi kekuatan dalam membangun toleransi serta kerukunan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai keagamaan dengan nilai kebangsaan. Menurut Menag, Pancasila menjadi titik temu yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa.
“Kita memiliki modal sosial, ekonomi, dan spiritual. Nilai-nilai agama dan kebangsaan dapat berjalan selaras melalui Pancasila. Inilah fondasi kita dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” tandasnya.
Menag berharap, masa Prapaskah yang beriringan dengan suasana Idulfitri ini dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat solidaritas lintas iman. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk tidak berhenti pada ritual keagamaan semata, tetapi melanjutkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebaikan tidak berhenti pada satu perayaan. Baik Ramadan maupun Prapaskah mengajarkan kita untuk terus menjaga kejujuran, keadilan, toleransi, dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa,” pungkasnya.



