Diskusi panel kedua mengangkat tema “Rekognisi, Afirmasi dan Fasilitasi Pesantren untuk Pendidikan Berkeadilan”, menghadirkan Badriyah Fayumi, Basnang Said dan Ketua RMI PBNU, Hodri Arief.
Hari kedua menampilkan pidato kunci Muhammad Qodari serta panel bertema “Komitmen Pemerintah Daerah untuk Pendidikan Pesantren yang Bermutu” menghadirkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa, Tengah Ahmad Luthfi dan Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir bersama para akademisi dan praktisi pendidikan nasional.
Sementara itu, disesi terakhir dijadwalkan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar dan puncak acara Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno.
Sebagai akademisi dan pemerhati komunikasi keIslaman, Retna menilai konferensi ini penting sebagai ruang kolaborasi antara dunia pesantren dan perguruan tinggi Islam.
“Dalam perspektif komunikasi Islam, pesantren adalah sumber keteladanan moral dan spiritual. Ketika pesantren dan perguruan tinggi bersinergi, maka lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga halus tutur, kuat iman, dan berjiwa pengabdi,” ungkapnya.
Rangkaian acara dijadwalkan berakhir pada Jumat, 7 Nopember 2025, dengan sesi Rencana Tindak Lanjut yang dirancang untuk memperkuat jejaring kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan dan pesantren guna mewujudkan pendidikan Islam yang berkeadilan dan bermutu.




