Syariahnow.com-Jakarta- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui penguatan ekosistem pesantren. Upaya ini dilakukan untuk mendukung program prioritas pemerintah sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan pesantren memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan dan penggerak ekonomi. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) dan Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) di Pondok Pesantren Lirboyo, Selasa.
“Program pemerintah saat ini tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk generasi ke depan. Ini merupakan sebuah kebersyukuran bagi kita semua ketika memiliki program yang berorientasi jangka panjang seperti ini,” kata Dicky, dikutip Syariahnow.com, dari ojk.go.id, Rabu, 15 April 2026, di Jakarta.
Baca juga: 42 Ribu Pesantren Jadi Fokus Digitalisasi Keuangan Kemenag dan OJK
Menurut dia, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Program ini juga membuka peluang ekonomi melalui keterlibatan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan dalam rantai pasok.
OJK, kata Dicky, tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai katalis dan fasilitator yang mempercepat akses serta membangun pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
Melalui kegiatan FEBIS, pelaku usaha diperkenalkan pada berbagai alternatif pembiayaan syariah serta difasilitasi dalam business matching dengan lembaga jasa keuangan.
Menutup sambutannya, Dicky menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, regulator, industri jasa keuangan, pesantren, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pesantren.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sanjaya, menyebut program MBG menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga peserta didik termasuk santri.
“Program ini menyasar kelompok rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta peserta didik, termasuk para santri. Pemerintah ingin memastikan bahwa bahkan sejak dalam kandungan, generasi penerus bangsa sudah mendapatkan asupan gizi yang baik,” kata Sony.
Baca juga: Perkuat Talenta Digital, OJK dan BI Inisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia
Sementara itu, Ketua Umum Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, mendukung program tersebut sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di pesantren.
“Justru yang ingin kita lakukan adalah meningkatkan kualitas manusia seutuhnya yang dididik dan dihasilkan oleh pesantren. Manusia yang secara intelektual unggul, secara fisik insya Allah semakin unggul dengan program-program ini, dan tentu saja secara rohaniah akan tetap kita pertahankan agar tetap unggul,” tutur Gus Yahya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi pesantren, termasuk melalui peningkatan literasi keuangan dan akses pembiayaan syariah.
Terpopuler
-
ADPISI Rumuskan Rekomendasi Peningkatan Mutu MTQMN
-
Bank Syariah Ini Ciptakan SuperApp BYOND, Janjikan Layanan Lengkap dan Aman
-
Revitalisasi IAEI: Mengembalikan Semangat Perjuangan Ekonomi Syariah di Indonesia
-
Jelang Muktmar IAEI 2025, Pilih Pemimpin yang Komitmen dalam Pengembangan Ekonomi Islam
-
Tahun 2024, Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Capai 39,11℅ dan 12,88℅




